Siapakah Marcopolo modern menurut Anda? Yang menyeberangi daratan Asia dan menjinjing berbagai oleh-oleh ke negerinya. Atau taruhlah Ibnu Batutah masa kini, atau boleh lah Cheng Ho abad millennium?
Apakah Anda akan menerka si Lara Croft yang bahenol binti sintal itu? Yang hobinya berkelana dengan mencuri harta kuno di berbagai sudut belahan dunia? Atau si James Bond, atau jagoan anyar si Bourne, atau pasangan Brad Pitt dan Jolie yang mengoleksi anak dari berbagai ras dan hidup nomaden?
Versi saya adalah seorang anak Indonesia bernama Agus. Agustinus Wibowo. Usianya 25 tahun saja, namun bila paspornya diperlihatkan pada Anda, maka tercenganglah Anda.
Mengapa?
Cap imigrasi berbagai negara telah tertoreh, lebih dari sepuluh negara. Apa istimewanya? Ya, setelah kuliah di negeri Tiongkok, Agus nekat menyusuri daratan Asia lewat jalan darat. Mongolia, Tajikistan, Afghanistan, India, Iran dan berbagai negara Asia tengah dengan lincah dia sambangi.
Ah, pasti Agus anak orang kaya yang gak punya kerjaan.
Betulkah?
Tidak saudara-saudara! Sungguh keliru Anda. Uang perjalanan didapatnya selama mengembara. Menulis freelance maupun berkerja kasar di daerah setempat. Ya. Agus, merasakan degub jantung warga, menyicip wangi keringat dataran Asia yang gersang.
Tujuannya bukanlah menuju obyek wisata yang pegunungan yang rimbun dan menyejukkan. Bukan dengan pesawat dan pulas berbaring di Hotel bintang lima. Namun, merasuk dalam denyut nadi kehidupan masyarakat lokal.
Naik kereta berdesakkan dengan kambing dan ayam, menumpang bus, menghirup debu, dan tentu saja bercakap-cakap dengan warga setempat. Tujuan Agus adalah perjalanan itu sendiri.
Selamat datang di halaman saya yang sederhana,Saya hanyalah musafir biasa, yang menjajakkan kaki di belahan-belahan dunia, hanya berbekal sebuah backpack kumal dan sebuah kamera poket. Izinkanlah saya berbagi hal-hal yang saya alami di negara-negara asing, berbagi cahaya-cahaya mata yang terpancar indah dari raut wajah para penduduk, berbagi sinar matahari yang menerangi setiap pelosok tanah, berbagi irama merdu kehidupan yang terus berputar.Perkenankanlah saya berbagi semua ini dari sebuah sudut pandang saya yang masih sangat sempit …
Anda dapat mengikuti perjalanannya lewat blog ini. Penguasaan bahasa Inggris yang cukup baik menjadikann blognya dwi bahasa. Hebatnya, ketika dia berada di perbatasan India dan Pakistan, Agus belajar bahasa Pashtun plus dialek lokal yang mengiringinya.
Suatu saat di Afghanistan, dalam blognya, Agus bercerita melihat seorang anak kecil menangis tersedu dan di depan anak kecil tersebut berserakan satu nampan telur yang telah pecah. Bau anyir. Agus simpatik. Sedih. Iba. Lalu diberikan beberapa uang receh kepada anak tersebut. Dikiranya anak itu takut pulang karena telah menyia-nyiakan uang belanja orang tuanya.
Tanpa dinyana, setelah beberapa hari kemudian Agus baru sadar bahwa itu hanya modus sebagian warga dalam trik meminta-minta. Dilihatnya anak kecil itu beberapa hari kemudian, tidak jauh dari tempat beberapa hari yang lalu anak itu melakukan trik yang sama.
Blog ini tidak berisi sesuatu yang menggebu-gebu, sensasional, apalagi binal. Sederhana, rendah hati, bercerita dengan polos. Apa adanya. Berbagai liputan dan gambar yang aduhai ciamik dapat Anda nikmati dalam blog dan situs pribadinya.
Agus, diplomat bangsa yang hadir mewakili jati dirinya dan mewakili bangsa ini.
Keberanian tidak datang dari berbagai aksi heroik dan penuh sorot kamera publikasi. Dirinya sekadar menikmati bahwasanya ada banyak kehidupan luar biasa di luar sana. Jauh dari keluarganya di Pulau Jawa.
Agus, selamat! Saya pantas iri dengan kehidupan yang Anda nikmati.

Djahadie inget si Andrea, toekang karang artikelen Laskar Pelangi poen..ianjah djoewa lakoewin hal iang samah….mala lebi broetaal poen…ik irih sama oknuum2 iang bole ketjap doenija loewas….
mampir…
wah hebat amat yaaa… ingin jalan2 jugaaa…