Kumis Manis Doyan Meringis
Apakah pernah merasakan merawat blog itu bikin susah hidup? Hobi lain ditanggalkan dan lupa dengan urusan perkawanan di dunia yang menginjak bumi? Membaca, bermusik dan berbagai hal lain yang sulit untuk dilakukan demi menengok, menabur pupuk, menyirami dan mengelus-elus blog kesayangan.
Ini lah yang dialami seorang Budi.
Ya, ini Budi, namun bukan Budi adik Wati, yang bapaknya punya kebiasaan rutin pergi ke kantor dan sang ibu yang selalu memasak di dapur, serta adiknya, Iwan, yang senang dolanan mobil miniatur terbuat dari jeruk bali bahenol mumplu.
Bila itu yang dimaksud, maka itu tanda bahwasanya kita kasmaran saat-saat belajar membaca sembari mengenakan seragam putih merah.
Budi Rahardjo. Pakai huruf “d”. Bapak berkumis lebat ini mengingatkan saya pada mendiang Cacuk Telkom atau Icuk Badminton. Hobinya membuat pose seorang diri ditemani selingkuhannya: deretan kabel yang berkelindan dengan background body belakang komputer dalam ruang server.
Berhubung salah satu keisengannya melakukan percobaan untuk menaikkan traffic dengan cara memposting sebanyak mungkin artikel setiap hari, menjadikannya dijerat blog sendiri. Silahkan dibayangkan: dalam sehari Budi menelorkan 7 postingan. Dapat ditebak betapa waktu luangnya melimpah ruah. Apa iya?
Namun hebatnya, Budi sangat menikmati hal ini. Bila kita tahan, beberapa postingan terakhirnya terkesan melulu menceritakan diri sendiri. Tanpa jeda. Namun ini bukan sejenis gejala narsiskus kemakus. Wajar saja. Menurutnya sendiri, Budi adalah seseorang yang kompeten dan layak menceritakan kesuksesannya. Sebuah self glory. Boleh kan?
Dengan penuh percaya diri Budi bercerita betapa dirinya malas menjadi pusat perhatian. Bersembunyi dan berusaha menyelami betapa pentingnya dia bagi kehidupan orang lain. Sepertinya Budi memang doyan mencitrakan diri.
Situasi ini sedikit berbeda dengan pengalaman si nona manis bernama panggung tikabanget, yang pernah meniti keluh kesah kepada ndoro mengenai betapa beratnya menahan beban luapan banjir komentar dan tiba-tiba ditasbihkan menjadi seorang selebritas. Sesuatu yang sulit diduga dan dirasa, namun nyata. Menulis tak lagi plong baginya.
Budi berbeda dengan nona manis. Karena Budi memang berkumis. Namun bukan itu sejatinya. Budi memiliki beberapa blog dan yang satu ini memang demi memenuhi hasrat diri. Oh iya, saya sekarang jadi ingat. Bukanlah mendiang Cacuk bukanlah Mas Icuk, melainkan karib Mas Didi Petet, yang wajahnya jauh lebih mirip yaitu Almarhum Bung Sena Utoyo.
Ya. Budi. Sang blogger yang pandai berteatrikal bahasa. Renyah, tanpa beban dan bicara tentang diri sendiri. Karena Budi satu ini adalah Budi Rahardjo. Pakai “d”. Diri.

di/pada Januari 5, 2008 di/pada 11:50 am
Renyah…banget.
di/pada Januari 5, 2008 di/pada 5:57 pm
Blog ‘kan hobi. Kalau sejalan dengan irama hidup kita, kerja keras apapun akan terasa nikmat. Ibarat Catsh*t pun akan terasa seperti coklat.
di/pada Januari 5, 2008 di/pada 11:21 pm
he he,
Waktunya kali ya bukan 24 jam sehari tapi 240jam,
Luar- biasa,
Salam kenal Mas,
di/pada Januari 30, 2008 di/pada 12:35 pm
wuihhh.. sayah dibilang nona maniiss..!!!
**jingkrak jingkrak**
di/pada Januari 30, 2008 di/pada 12:58 pm
* Bengong liatin Tika jingkrak-jingkrak *
Soal Pak Budi, saya juga salut dengan beliau. Sayang sekali pas Pestablogger kemaren Pak Budi gak jadi datang. Padahal sudah berharap..
di/pada Januari 30, 2008 di/pada 1:32 pm
wuihhh.. tika dibilang nona maniiss..!!!
**jingkrak jingkrak**