Gombalan Masuk Angin Ringan
Kemana angin berhembus kesana lah blogger berlarian.
Lalu mengapa sebuah catatan ringan yang angin-anginan begitu digandrungi segerombolan blogger? Pertanyaan ini mungkin gampang dijawab oleh Anda para blogger. Namun bagi saya, hal ini masih menjadi pertanyaan yang njendel – meminjam istilah si semprul sontoloyo.
Ulasannya tidak berniat membanyol. Setingkat lebih serius dibandingkan saat masih berjuluk si gemblung kemplu. Namun karena efek visual yang mumpuni dan jarang diperhatikan, membuat blog ini berbeda. Ulasannya ringan, namun berbobot. Pikirannya seakan-akan simpel, namun kompleksitas sudut pandangnya bukan perkara biasa. Inilah kekuatan sejati blog raja menggombal seantero jagat.
Ada satu lagi sebetulnya yang bikin blog ini dikategorikan blog panutan. Bahasa. Ciamik, bernas dan mumpuni. Bahasa Indonesia yang kosakatanya selaras dengan ajaran mBah J.S Badudu. Saya curiga, bila Paman kita ini ditanya siapa tokoh idolanya, maka jawabannya adalah Poerwadarminta. Bila ditanyakan akronim apa yang paling nyantol di kepala, jawabannya adalah EYD.
Dilihat dari kaca mata teknik metafisika, cabang keilmuan favorit saya selain teknik fisika terapan dan teknik meminta-minta, persona satu ini memang ahli kebendaan. Anak blognya bercerita tentang berbagai perkakas, jasad renik yang unik dan berbagai tampilan grafis dan visualisasi yang nyentrik.
Atau malah jangan-jangan justru beliau ahli biologi, yang dapat mengawinkan antara jurnalisme kerakyatan dengan visualisasi materi dibumbui kelakar tingkat tinggi sehingga beranak pinak menjadi beberapa blog. Niche. Segmented berkelas namun dengan batas yang tipis antara kecendekiawanan dan kerendah-hatian.
Senyampang dengan itu, para penggandrung sejati pun berusaha ikut tenar dan berusaha mencari perhatian dari si Paman – dengan berkirim komentar yang banyak- dengan harapan blog si komentator ditengok [oleh Paman dan blogger lainnya] dan jauh lebih penting dapat dimasukkan dalam kolom “berbagi”. Dijamin, sadar atau jauh lebih sadar, rekomendasi si Paman akan memberikan efek “angka keberkunjungan yang meningkat tajam”.
Apakah Paman telah menjelma menjadi maestro blog, seperti Basuki Abdullah atau Affandi atau Raden Saleh, yang dengan tangan Midas-nya dapat menyentuh sesuatu menjadi “emas”?
Ataukah Paman telah dijelmakan oleh para penggandrungnya lewat cara “goreng-menggoreng” -dengan tanpa melihat secara obyektif per artikel postingan yang baik, biasa, atau buruk- tetap dibanjiri komentar.
Seperti nasib Jenmani yang membuktikan bahwasanya Wis titimangsane godhong dadi duwit. Seperti nasib perupa pelukis yang digoreng segerombolan spekulan yang dinamakan “Kolektor klik Magelang” di era awal tahun 2000-an? Bagai lukisan yang dijual hanya dengan bermodalkan tanda tangan.
Ah, dimana pun si Paman beredar, di sana blogger berlarian. Itu saja yang perlu kita acungi jempol. Semoga saja ini bukan sekadar gombalan amoh. Kalau itu yang terjadi, mungkin saya akan segera disomasi, karena melanggar HaKI.

di/pada Januari 4, 2008 di/pada 1:05 am
Posting ini jelas gombalan amoh. Saya ndak sehebat itu. Semakin banyak Anda memuji, semakin cepat kegombalan saya luntur. Bisa-bisa saya pangling terhadap diri sendiri.
di/pada Januari 4, 2008 di/pada 8:23 am
Boeng Kemploe,koweorang poenja saingan…satoe oknuum iang poenja ianjah bahasa mirip van koweoroang boeng…manoekik, tadjem, menggoenting tijada kassie doega di tikoengan itoe….ataoe djangan2 inih koweorang iangkasie bikin ?
di/pada Januari 4, 2008 di/pada 10:50 pm
Halah! Ngegombal lagi.
Salam kenal!
di/pada Januari 5, 2008 di/pada 9:49 pm
anginnya berat!
di/pada Januari 18, 2008 di/pada 11:46 pm
gombalan masuk angin ringan. dari jaman simbah-simbah, obatnya gampang: kerokan. kecuali yang masuk adalah angin puting beliung. ora nyambung?