Blog Kopdang yang Indonesiana
Tahukah Anda profil orang Indonesia tulen? Saya mendapatkan kesan tersebut saat mengunjungi blog Mas Kopdang.
Percampuran antara kesan norak, sok ngebanyol, terkadang garing, namun terkadang serius. Itu lah cerminan warga Indonesia sebagian besar.
Patut disayangkan nama julukan yang digunakan adalah Mas Kopdang. Okelah, Kopdang berarti kopidangdut, dari nama alamat blog tersebut. Hanya saja mengapa menggunakan nama panggilan “Mas”. Mas itu terkesan Jawa. Bukan Indonesia. Kalau mau dibuat Indonesia, ya sebaiknya Pak-Kopdang…
Tapi memang sepertinya Mas Kopdang tidak pernah declare bahwa blognya blog cita rasa Indonesia atau Jawa. Dia hanya menyatakan: “Blog Kopidangdut. Itu saja…” Berhubung Indonesiana, maka dari urusan lowongan, skripsi, rumah tangga, hingga urusan remeh-temeh seperti pengalaman merokok ditulis dalam blognya.
Ya, itulah warga Indonesia sejati. Benar-benar ngawur…
Kumis Manis Doyan Meringis
Apakah pernah merasakan merawat blog itu bikin susah hidup? Hobi lain ditanggalkan dan lupa dengan urusan perkawanan di dunia yang menginjak bumi? Membaca, bermusik dan berbagai hal lain yang sulit untuk dilakukan demi menengok, menabur pupuk, menyirami dan mengelus-elus blog kesayangan.
Ini lah yang dialami seorang Budi.
Ya, ini Budi, namun bukan Budi adik Wati, yang bapaknya punya kebiasaan rutin pergi ke kantor dan sang ibu yang selalu memasak di dapur, serta adiknya, Iwan, yang senang dolanan mobil miniatur terbuat dari jeruk bali bahenol mumplu.
Bila itu yang dimaksud, maka itu tanda bahwasanya kita kasmaran saat-saat belajar membaca sembari mengenakan seragam putih merah.
Budi Rahardjo. Pakai huruf “d”. Bapak berkumis lebat ini mengingatkan saya pada mendiang Cacuk Telkom atau Icuk Badminton. Hobinya membuat pose seorang diri ditemani selingkuhannya: deretan kabel yang berkelindan dengan background body belakang komputer dalam ruang server.
Gombalan Masuk Angin Ringan
Kemana angin berhembus kesana lah blogger berlarian.
Lalu mengapa sebuah catatan ringan yang angin-anginan begitu digandrungi segerombolan blogger? Pertanyaan ini mungkin gampang dijawab oleh Anda para blogger. Namun bagi saya, hal ini masih menjadi pertanyaan yang njendel – meminjam istilah si semprul sontoloyo.
Ulasannya tidak berniat membanyol. Setingkat lebih serius dibandingkan saat masih berjuluk si gemblung kemplu. Namun karena efek visual yang mumpuni dan jarang diperhatikan, membuat blog ini berbeda. Ulasannya ringan, namun berbobot. Pikirannya seakan-akan simpel, namun kompleksitas sudut pandangnya bukan perkara biasa. Inilah kekuatan sejati blog raja menggombal seantero jagat.
Ada satu lagi sebetulnya yang bikin blog ini dikategorikan blog panutan. Bahasa. Ciamik, bernas dan mumpuni. Bahasa Indonesia yang kosakatanya selaras dengan ajaran mBah J.S Badudu. Saya curiga, bila Paman kita ini ditanya siapa tokoh idolanya, maka jawabannya adalah Poerwadarminta. Bila ditanyakan akronim apa yang paling nyantol di kepala, jawabannya adalah EYD.
Ingat Perkataan Mbah Kakung
sebuah ujaran khas Jawa yang jarang didengar lagi. Semprul sontoloyo terucap manakala laku kita tak sepadan dengan garis norma pribadi seorang -yang saya bayangkan- tua, bangkotan, botak, merokok godhong jagung, batuk-batuk, ngeyelan namun ngangeni.
Jarang rasa-rasanya bila si Mbok mengatakan hal demikian bagi anak-anaknya. Juga jarang kemungkinannya bila diucapkan si Mbok bagi si Parmin, tukang becak langganan, yang senantiasa mengantar ke Pasar Klewer, walaupun genjotannya terlalu pelan atau justru amburadul bin blingsatan sekuat kuda jantan yang sedang horny mengejar dokar di depannya yang ditenagai kuda betina nan ramping dan menjurai menantang.



